Showing posts with label SEKILAS BUS. Show all posts
Showing posts with label SEKILAS BUS. Show all posts


Saya beberapa kali melihat selintas bus berwarna biru ini di daerah seputaran Tanggulangin dan di dekat Hypermart Sidoarjo. Terlihat di bodi bus yang kelihatan baru dan masih terawat itu adalah Trans Gerbang Kertasusila. Bentuk bus ini sama dengan busway atau bus Transjakarta, dengan pintu keluar masuk penumpang di tengah tengah dan menggunakan konstruksi dek tinggi atau high deck.

Anehnya saya jarang melihat bus ini berkeliaran di Surabaya, hmm atau mungkin karena saya jarang ke Surabaya. Saya coba mencari tahu di internet ternyata bus biru Trans Surabaya ini yang dikelola oleh perum DAMRI ini pada mulanya diperuntukkan untuk kunjungan UN Habitat tahun 2015 di Surabaya. Bus ini merupakan sumbangan dari Kementerian Perhubungan. Sebanyak 30 buah bus warna biru diserahkan kepada Dishub Surabaya di tahun 2015.


Namun anehnya pemkot Surabaya sendiri menolak beroperasinya di kota Pahlawan tersebut dengan alasan belum adanya infra struktur terutama untuk halte tinggi untuk tempat menaik turunkan penumpang. Akhirnya 30 buah bus itu sempat mangkrak di garasi bus DAMRI di daerah Jemursari.

Untungnya daripada mangkrak bus bus tersebut dioperasikan untuk melayani penumpang di trayek Surabaya-Sidoarjo dan Porong. Sebanyak 10 buah bus beroperasi di daerah Sidoarjo sedangkan 20 buah sisanya dioperasikan di Surabaya. Saya sendiri sempat sekilas melihat dek atau halte tinggi telah dibangun di beberapa tempat di Sidoarjo.

Dari informasi yang ada tarif BRT Gerbang Kertasusila ini adalah 5 ribu rupiah untuk semua jarak dalam artian jauh dekat sama saja tarifnya. Menilik dari armada yang digunakan harusnya bus semodel dengan busway di Jakarta ini bisa menjadi alternatif pemecahan masalah kemacetan di Surabaya dan kota satelitnya seperti Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto. 

Namun kendala seperti jalur yang masih campur dengan kendaraan lainnya dan juga halte dengan dek tinggi serta survey tingkat kebutuhan penggunanya harus bisa diselesaikan secepatnya agar operasionalnya bisa berjalan dengan maksimal.


Ada kecenderungan di beberapa daerah angkutan umum tidak lagi menjadi sarana transportasi utama warganya. Bahkan pada kenyataannya angkutan umum untuk beberapa trayek terpaksa harus ditutup karena sepinya penumpang, ini terjadi di Surabaya, Sidoarjo, Gresik dan banyak kota di Jawa Timur.

Kenyataan pahit ini saya dengar sendiri dari tetangga saya yang memiliki satu unit LYN atau mobil angkutan umum dengan trayek Jembatan Merah ke Kenjeran, dia bercerita hanya di jam jam tertentu saja di tiap harinya dia gunakan untuk menarik penumpang, selebihnya lebih baik duduk manis di terminal daripada harus jalan mencari penumpang yang tidak mesti ada.

Terkadang dia juga malas berangkat karena mending di rumah menunggu carteran dari sekolah langganannya untuk mengantar siswa mereka pergi berenang, atau tetangga yang sedang butuh mobil carter untuk acara hajatan. Dilema memang, di saat pemerintah kota berusaha mengurangi jumlah kendaraan bermotor dan mencoba menarik masyarakat untuk naik angkutan umum.

Kalau anda sering melintas di dekat KBS atau Kebun Binatang Surabaya, persis setelah jembatan Wonokromo di sisi sebelah kiri jalan ada Terminal Angkutan Umum Joyoboyo, anda bisa lihat atau melintas sesekali waktu di samping terminal, nampak jajaran mobil angkot atau Lynn berbaris rapi menunggu penumpang. Dan yang aneh penumpang yang ditunggu hanya “satu dua yang terlihat”. Terminal itu nyaris mati kalau saya boleh bilang.

Ya disaat kemacetan mulai tak terbendung di kota kota besar macam Surabaya, harusnya angkutan umum menjadi alternatif pemecahan masalahnya. Namun apa boleh buat, orang lebih memilih naik sepeda motor atau mobil pribadi jika pergi ke tempat kerja atau untuk keperluan lainnya. Kredit sepeda motor sekarang amat sangat mudah, bahkan tanpa DP atau Uang Muka sekalipun dan proses verifikasi yang seadanya saja. Motor baru dengan DP lima ratus ribu rupiah dan cicilan mungkin kurang dari satu juta rupiah per bulan sudah bisa didapat.

Memang kalau dihitung hitung naik motor sendiri jelas akan jauh lebih hemat daripada naik angkutan umum. Kita coba buat perhitungan sederhana, motor sekarang rata rata untuk pemakaian dalam kota konsumsi BBM nya sekitar 30-40 km/liter. Jika jarak dari rumah ke tempat kerja kita ambil rata rata sekitar 10 km, maka jarak tempuh pulang pergi adalah 20 km setiap harinya. Dengan harga BBM premium atau pertalite di kisaran angka tujuh ribu rupiah per liter. Maka dalam dua harinya kita hanya mengeluarkan biaya transportasi sebesar 7 ribu rupiah saja. Coba bandingkan jika kita naik angkutan umum, anggap saja ongkos sekali naik angkot adalah 5 ribu rupiah maka dalam 2 hari kerja biaya transportasi yang harus dikeluarkan adalah 20 ribu rupiah.

Dilema juga bagi para pengguna transportasi umum di kota besar yakni, karena terus berkurangnya jumlah armada maka waktu tunggu para penumpang untuk menunggu angkutan menjadi lebih lama belum lagi “kebiasaan NGetem” yang lama dari sopir, yang tentu saja membuat jengkel penumpang karena takut terlambat masuk ke tempat kerja.

Seharusnya Surabaya harus cepat berbenah dalam membenahi transportasi publik ini agar kemacetan tidak terus terjadi tiap harinya dan menjadi satu hal yang harus di “mahfumi” warga kota. Surabaya harus segera berkaca kepada Jakarta agar kemacetan tidak terjadi seperti halnya di ibukota negara tersebut. Pembenahan masalah transportasi ini memang membutuhkan kebijakan yang komprehensif dan menyeluruh tidak bisa hanya dengan membenahi satu sisi saja.
Pembatasan kepemilikan kendaraan bermotor, tarif pajak yang mahal untuk kepemilikan kendaraan bermotor lebih dari satu, tarif parkir yang mahal di tempat tempat umum, serta banyak alternatif cara lainnya tidak mungkin bisa diwujudkan jika tidak didukung kebijakan dari pemerintah pusat. Jika tidak dimulai dan dipikirkan dari sekarang, jangan salahkan jika 5 atau 10 tahun lagi Surabaya akan benar benar seperti Jakarta dalam hal kemacetan lalu lintasnya.



Andai saja bus ini tidak melintas di depan saya, saat saya dan si bungsu menikmati matahari sore di dekat warung apung Rahmawati Krian tentu saja ingatan tidak akan kembali ke era tahun 80 an dimana bus ini sempat merajai jalur Surabaya Kediri bersama bus bus lawas lainnya seperti Hafana, Surya Perdamaian, Sri Lestari, dll.

Bus ekonomi itu melintas di depan saya seolah penuh asa akan mendapat banyak penumpang agar dapur sopir, kondektur dan kenek dapat terus mengebul. Bus tua itu masih kelihatan segar karena polesan cat barunya, namun di beberapa titik goresan wajah tuanya tentu tidak dapat disembunyikan. Bus AC non ekonomi ternyata memiliki tujuan Surabaya ke Pare entah lanjut ke Kediri atau tidak itu terlihat di papan kecil di kaca depan sebelah kanan.

Terlihat tidak begitu banyak penumpang yang naik, di sisi kanan kiri bus dilengkapi dengan gordin kain, namun dengan semua sisi jendela nyaris terbuka. Tentu saja karena bus ini belum dilengkapi dengan pendingin udara.

Bus Hasti dari informasi yang saya dapat di internet memiliki garasi dan kantor di jalan Maoni kota Kediri. Armada bus besarnya sudah banyak berkurang karena dimakan usia dan tidak diremajakan hanya melayani jurusan Surabaya Kediri lewat Pare, sedangkan bus bus mediumnya masih banyak melayani rute Malang Jombang dan Kediri Malang.

Ini dia beberapa jepretan gambar dari bus Hasti yang sempat saya ambil dari kamera HP, semoga membangkitkan memori anda di tahun 90an tentang bus ini.





Artikel saya mengenai perjalanan dengan menggunakan bus Sugeng Rahayu PATAS dulu sempat merajai di blog saya yang sekarang dibanned oleh GOOGLE. Namun tak ada salahnya mengingat kembali sisa sisa memori yang masih ada di kepala tentang perjalanan saya menggunakan bus warna orange tersebut dari Terminal Tirtonadi Solo ke Surabaya.

Naik bus ini sebenarnya hanya satu kebetulan saja, karena kebetulan saya penggemar bus EKA. Entah mengapa, saat itu terminal bus Tirtonadi sedang diperbaiki dan kebetulan bus PATAS yang mengarah ke Surabaya hanya ada bus dari PO Sumber Group ini. Warnanya yang sangat mencolok menarik hati saya, saya sempat menunggu sebentar kalau kalau bus favorit saya melintas, ternyata waktu antrian diperlakukan di jalur Patas ini. Berarti kalo saya tetap memaksakan naik EKA maka waktu saya banyak yang terbuang.

Ah, tidak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang baru. Kebetulan saya tengok ke dalam, penumpang bus tidak terlalu banyak. Kondektur pun berteriak teriak dan berkata "ayo ayo bus e arep budhal". Segera saya naik dari pintu belakang, dan kutengok ternyata dekat pintu belakang terdapat toilet kecil. Hmm, lumayan juga fasilitas bus ini dibanding kompetitornya.


Rupanya PO Sumber Group ingin mencicipi dan bersaing dengan kompetitornya untuk bus kelas PATAS pada jalur Surabaya-Solo-Jogja-Purwokerto, dan Surabaya-Semarang. Mereka menginvestasikan dana yang tidak sedikit dan membuat satu armada baru yang berkesan "tidak nanggung" untuk bersaing habis-habisan dengan pesaingnya.

Beralih di interior bus, warna cover pada head rest sepadan dengan body bus yakni warna orange, tempat bagasi pun tertutup dan istimewanya terdapat colokan listrik di dalamnya untuk cas HP kita. WIFI saya coba, memang tersambung sayang tidak ada koneksi, kursi dengan format 2 kanan dan 2 kiri sudah recycliner tentunya. Toilet yang berposisi sejajar dengan bangku kedua dari belakang, hanya diperuntukkan untuk buang air kecil saja dilengkapi dengan wastafel kecil.

Kondektur mulai menarik ongkos tiket penumpang ketika bus mulai beranjak dari lokasi sekitar UNS Solo, tarif bus Sugeng Rahayu Patas dari Solo ke Surabaya saat itu adalah 85 ribu rupiah sudah termasuk tiket makan di RM Utama Caruban. Ini berarti tidak melewati Karang Jati melainkan agak berputar melalui Caruban dan Madiun. Sesaat kemudian kondektur membagikan minuman air mineral dalam botol berwarna orange. Hehehehe strategi pemasaran yang cukup yahud dan cerdas. Di saat kompetitornya saat itu saya masih ingat betul masih membagikan secara cuma cuma air mineral dalam gelas saja :-(

Gocekan sopir dalam saat menjoki jet darat ini cukup handal. Tak terasa kurang dari 2.5 jam bus sudah memasuki terminal Ngawi lama dan tidak seperti bus Eka yang setelah perempatan terminal lama akan lurus ke arah Karang Jati, bus ini berbelok ke kiri ke arah Plaosan dan menuju arah Madiun.

Tak lama kemudian bus berhenti di RM Utama Caruban Madiun, penumpang semua turun termasuk saya, yang bergegas mencari toilet dan musholla untuk sholat maghrib. Posisi toilet dan musholla di sebelah kanan dari arah kedatangan bus. Bergegas setelah sholat, saya ke ruang makan, rupanya sistem prasmanan dipakai untuk pelayanannya. 

Menu menu yang sederhana sekali menurut saya, tidak masalah sebenarnya namun sekedar kritikan saja, pengelola harusnya memperhatikan masalah rasa dan penyajiannya. Rasanya standar sekali menurut saya. Dan beberapa kali saya naik bus ini, menu prasmanannya tidak berubah baik rasa maupun menunya heheeh. Jika dibanding kompetitornya, walaupun menu yang disajikannya sama namun rasa makanannya masih bisa dibilang lumayan.

Empat jam berselang bus sudah memasuki daerah Balongbendo Krian ini berarti sebentar lagi saya akan mengakhiri perjalanan di perumahan dekat perempatan Bypass Krian. Overall saat itu saya merasa beruntung bisa menjajal armada baru Sumber Group ini.

Bus yang berciri khas strip warna biru dan merah ini sering lalu lalang di bypass Krian dekat perumahan saya. Kebetulan saya beberapa kali naik bus ini jika ingin ke Terminal Bungurasih. Bus AKDP atau Antar Kota Dalam Propinsi ini melayani trayek Surabaya ke Tulugangung, Trenggalek dan memiliki saingan berat yakni PO Harapan Jaya.

PO yang memiliki alamat kantor di Jl. Veteran 45 Kel Ngantru, Ngantru, Kec. Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur 66311 dengan kontak Telepon:(0355) 791092. PO ini memiliki armada AC ekonomi dan ekonomi biasa dengan harga tiket yang sama. Namun saya jarang sekali menjumpai bus yang non AC.

Tiket PO Pelita Indah

Beberapa kali naik bus ini untuk jarak yang sangat dekat saya cukup puas dengan layanannya, tarif untuk Krian ke Terminal Bungurasih adalah 4 ribu rupiah. Dan jika saya membayar dengan uang lebih akan dikembalikan, jarang sekali yang tidak. Interior dalam bus cukup bersih dan terawat begitu juga dengan kursi penumpang dengan konfigurasi 2 kiri dan 3 kanan. Rute yang dilalui bus ini adalah Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kertosono-Kediri-Tulungagung dan Trenggalek.

Pendingin udara dan mesin bus juga dalam kondisi prima, walaupun gocekan sopir tidak sekencang bus bus seperti Mira dan Sumber Group. Harga tiket bus Pelita Indah dari Surabaya ke Tulugagung adalah 24 ribu rupiah sedangkan ke Trenggalek sebesar 26 ribu rupiah.


Kebetulan anak bungsu saya memiliki hobi yang agak unik yakni hampir setiap hari minta diajak melihat lalu lalang kendaraan bermotor di depan perumahan saya daerah Bypass Krian Sidoarjo. Karena menjadi jalan utama lalu lintas kendaraan antar kota berbagai macam bus yang melintas sering saya abadikan saat melewati jalan tersebut.

Salah satu diantara banyak bus yang menarik perhatian saya adalah PO JAYA, yakni bus yang melayani rute Surabaya ke Ponorogo dan sebaliknya. Dan dari sumber di internet ada perusahaan otobus ini terbagi menjadi dua yakni PO JAYA Kuning dan PO JAYA Putih.


Kedua bus dari masing masing PO yang tersebut dengan mudah dibedakan karena pada PO  JAYA Kuning bus yang dipakai bercorak catur di samping bodi depan serta samping dan juga angka 46 yang mencolok, sedangkan PO JAYA Putih memakai gambar REOG Ponorogo dan gajah sebagai ciri khasnya.

Perusahaan ini memiliki kantor di Jl. Jend Sudirman komp Ruko Barat Prempatan Jetis 50m, Kec. Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63419 dengan no telepon 0877-5880-2958. Persaingan di jalur Surabaya Ponorogo ini setahu saya adalah PO Jaya, PO Restu, PO Menggala dan PO Cendana. Namun dilihat dari lalu lalang bus yang melintas nampaknya bus bus dari PO Jaya yang mendominasi jalur ini.

Saya sendiri seringkali naik bus ini untuk jarak dekat yakni dari Bypass Krian Sidoarjo ke Terminal Bungurasih dan sebaliknya. Ongkos dari jarak dekat ini adalah empat ribu rupiah, namun sayang kadang kalo kita tidak member kondektur uang pas maka uang kembalian jarang kita dapatkan. Mengenai armada yang dipakai, bus ini memakai bus bus yang relatif baru dengan kondisi bus yang nyaman karena sudah memakai pendingin udara walaupun dengan tarif ekonomi. Interior dalam bus pun terawat begitu juga dengan mesin bus yang bersuara senyap dan tidak berisik.

Saya sendiri tidak banyak mendapatkan informasi mengenai tarif dan jadwal bus Jaya Surabaya Ponorogo ini, namun tarif pasti dari Surabaya ke Ponorogo adalah 26 ribu rupiah. Dengan beberapa daerah yang dilewati adalah Surabaya-Krian-Mojokerto-Mojoagung-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Madiun dan terakhir Ponorogo. Sedangkan jadwal keberangkatan saya pikir hampir setiap jam bus ini berangkat dari terminal Bungurasih mengingat seringnya bus ini lewat di depan perumahan saya.


Dulunya saya hanya menjumpai bus ini di rute Surabaya-Malang-Blitar PP. Namun sekarang saya juga menjumpai kala melintas di bypass Krian Sidoarjo dan terlihat jelas tulisan rutenya yakni Surabaya-Ponorogo. Bus berwarna hijau ini mudah dikenali karena dengan gambar PANDA di lambung kanan kirinya. Ya, itulah PO Restu yang kini lebih dikenal dengan RESTU PANDA.

PO ini memiliki kantor di Jl Sumberwuni 221, Kalirejo, Lawang, Malang 0341-426489 namun kalau saya tidak salah juga memiliki garasi atau pool di daerah Gilang Sidoarjo dekat dengan garasi PO EKA-MIRA.

Beberapa rute yang dilayani oleh bus ini dari Terminal Bungurasih adalah Malang, Jember, Probolinggo, Blitar, Banyuwangi, Madiun dan Ponorogo. Saya sendiri hanya sempat sekali atau dua kali naik bus ini dari bypass Krian dengan tujuan Terminal Bungurasih. Tarif yang dikenakan sesuai dengan aturan dari Dishub yakni 4 ribu rupiah.

Namun ada satu hal yang menarik ternyata bus bergambar PANDA dengan background warna hijau ini tidak mutlak milik PO RESTU saja akan tetapi dari sumber yang ada dan saya lihat sendiri di lapangan, untuk jurusan Surabaya-Madiun-Ponorogo ada bus dengan gambar yang sama namun bukan binatang Panda melainkan beruang ternyata milik dari PO CENDANA. Agak sulit membedakan bus dari kedua PO ini jika tidak kita perhatikan dengan seksama namun untuk PO CENDANA tidak ada tulisan RESTU dan tulisan PO Cendana juga tidak begitu jelas terdapat di posisi samping depan.

Agar berhati-hati saat anda tidak sengaja naik bus dengan gambar mirip PANDA yang sebenarnya  adalah beruang dengan trayek Surabaya-Ponorogo dari berbagai sumber mengatakan bahwa tarif bus ini tidak transparan dan juga awak bus yang tidak ramah.


Berikut adalah tarif PO RESTU “PANDA” tahun 2016:

Surabaya – Malang
Patas: Rp 25.000, AC tarif biasa Rp 15.000

Surabaya – Madiun
Patas: Rp 40.000, AC tarif biasa Rp 22.000

Surabaya – Ponorogo
Patas: Rp 50.000, AC tarif biasa Rp 26.000

Surabaya – Blitar Rp 32.000
Surabaya – Lumajang Rp 27.000
Surabaya – Jember Rp 34.000
Blitar – Malang Rp 17.000

Surabaya – Semarang
Patas: Rp 90.000, AC tarif biasa Rp 58.000

Salah satu perusahaan organda terbesar dari Jawa Timur ini menjadi andalan bagi masyarakat yang hendak melakukan perjalanan dari Surabaya dan sekitarnya menuju daerah Jawa Tengah seperti Solo, Yogyakarta, Magelang, Kebumen dan Cilacap.

PO EKA-MIRA memiliki dua segmen yang disasar yakni kelas eksekutif dan ekonomi AC dengan tarif biasa. Memiliki kantor pusat di Jl. Bhayangkara no 63 Mojokerto, telp (0321) 321567 dan Pool atau garasi bus di Jl Raya Gilang No 10, Taman Sidoarjo, telp (031) 7882345, 88198899, dan (081 333 335 369)

Bus EKA melayani penumpang kelas eksekutif dengan rute:
Surabaya-Solo-Salatiga-Semarang PP
Surabaya-Solo-Jogja-Magelang PP
Surabaya-Solo-Jogja-Purwokerto-Cilacap PP (menggunakan bus baru dengan toilet)

Bus MIRA melayani kelas Ekonomi dengan rute:
Surabaya-Madiun-Solo-Jogja PP

Berikut adalah "TARIF BUS EKA CEPAT SURABAYA-SEMARANG" yang bersumber dari website PO EKA MIRA yang berlaku sejak 30 Juli 2015.

TARIF BUS EKA CEPAT SURABAYA - SEMARANG
SURABAYA – MOJOKERTO
37.000
SURABAYA – JOMBANG
37.000
SURABAYA – NGANJUK
37.000
SURABAYA – CARUBAN
43.000
SURABAYA – NGAWI
58.000
SURABAYA – GENDINGAN
70.000
SURABAYA – SOLO
75.000
SURABAYA – KARTOSURO
83.000
SURABAYA – SALATIGA
88.000
SURABAYA – SEMARANG
100.000

* Tarif diatas tidak mengikat bisa berubah sewaktu waktu dan belum termasuk servis makan di RM DUTA Ngawi

Simak juga jadwal BUS EKA Surabaya - Semarang.
Bus Eka berhenti RM DUTA Ngawi

Sebenarnya saya agak malas jika harus naik bus dari Semarang ke Surabaya karena waktu tempuhnya yang lumayan panjang yakni sekitar 9 jam, baik itu lewat jalur Pantura maupun lewat jalur Tengah. Namun karena lokasi pekerjaan yang dekat dengan terminal Terboyo daripada harus ke stasiun Poncol maupun Tawang, serta jam keberangkatan kereta yang agak malam menurut saya akhirnya saya memilih bernostalgia kembali menempuh perjalanan dengan menggunakan bus Patas.

Untung saja ada sesama rekan yang juga hendak kembali ke Sragen dengan menggunakan bis juga, akhirnya kita berdua menuju terminal bus Terboyo. Terminal bus ini kelihatan lusuh walaupun beberapa perbaikan telah dilakukan khususnya di jalur keluar terminal yang telah ditinggikan untuk mengantisipasi banjir ROB yang senantiasa melanda kawasan tersebut. Maklum saja karena terminal Terboyo sangat dekat dengan pantai utara Semarang.

Menurut teman yang setiap akhir pekannya pulang ke Sragen mengunjungi keluarganya, dia lebih memilih naik bus EKA atau Sugeng Rahayu Patas daripada bus bus Semarangan lainnya. Walaupun dia harus merogoh kocek lebih dalam karena dari Semarang ke Sragen dia dikenakan tarif Semarang ke Ngawi dengan nominal 2x lipatnya.

Jadwal bus EKA dari Semarang ke Surabaya sore hari adalah jam 18.10 malam dan berturut turut sesudahnya dengan selang waktu satu jam jaraknya. Karena masih terlalu sore kami sempatkan mengisi perut terlebih dahulu dengan makan “nasi kucing” di depan pintu masuk terminal. Agaknya warung nasi kucing langganan teman saya ini bisa dijadikan referensi bagi anda yang kelaparan saat menunggu di terminal Terboyo Semarang. Sayangnya waktu buka hanya di sore dan malam hari saja.

Waktu menunjukkan jam setengah 6 sore, saya berlari ke musholla untuk menjalankan sholat Maghrib sambil berpesan kepada teman saya untuk menelpon saya jikalau bus hendak berangkat. Benar saja di akhir rokaat ketiga HP saya bergetar terus menerus. Saya selesaikan sholat dan saya baca isi pesan di HP saya, “Mas cepetan bus dah mau berangkat”.
Saya berlari sekonyong koder ke arah bus EKA yang ngetem di sebelah pojok kanan, benar saja beberapa orang penumpang telah terlihat didalam bus, teman saya hanya tertawa kecil melihat saya berlarian ke arah bus. Pas pukul 6.10 sore bus melaju meninggalkan terminal, dan di arah depan pintu jalan Kaligawe beberapa orang penumpang baru naik. Tiket bus EKA dari Semarang ke Surabaya saya tebus seharga 112 ribu rupiah termasuk tiket makan di Rumah Makan Duta Ngawi.
Tiket dan kupon makan bus EKA PATAS

Lepas dari TOL Tembayang, bus sudah penuh sesak bahkan dengan beberapa penumpang berdiri. Ah rupanya bus sekelas EKA Patas pun kalau dari arah Semarang ke Solo ternyata diiperbolehkan memuat penumpang walaupun berdiri. Gojekan pas sopir terasa sedikit kasar menyusuri jalan jalan di Ungaran hingga Boyolali, mendekati Kartosuro saya terbangun, sebentar lagi teman saya akan turun di terminal Tirtonadi Solo. Dia akan oper bus ke arah Sragen.

Penumpang bus seakan tidak susut maklum hari Jumat banyak orang yang hendak pulang ke kampong halaman masing masing di saat akhir pekan seperti ini. Seperti biasa tas saya taruh samping dan saya pasang muka agak galak agar bangku sebelah tidak diduduki orang, ah akhirnya gagal juga seorang cewek naik selepas Tirtonadi namun beruntung hanya sampai Pilang Sragen saja. Sesaat setelah cewek itu turun saya pun pulas dan terbangunsaat bus memasuki Mantingan dekat dengan Pondok Pesantren Gontor Putri 1.

Bersambung ............
Bus EKA Patas rehat di ex terminal Terboyo
Sudah hampir setahun saya tidak merasakan perjalanan dengan menggunakan jet darat alias bus, namun minggu kemarin saya berkesempatan lagi merasakan sensasi naik bus dengan tujuan menengah yakni dari Terminal Terboyo Semarang ke Surabaya. Dengan jarak tempuh kurang lebih 225 km jikalau kita naik kereta api, namun jika kita naik bus jaraknya bisa mencapai 270 km apalagi jika menempuh rute tengah yakni dari Semarang melewati Salatiga, Boyolali, Solo lanjut ke Ngawi dll.

Bus Eka Patas sendiri saya tidak tahu pastinya sejak kapan membuka jalur ke arah Semarang mungkin sekitar 5 tahun yang lalu, jalur yang cukup sibuk biasanya dari Solo ke Semarang dan sebaliknya terutama di saat akhir pekan. Kini perusahaan organda asal Jawa Timur ini yang memiliki garasi di Kletek Sidoarjo, juga membuka trayek baru dengan jurusan ke Cilacap, Purwokerto dan Bobotsari. Dan armada bus yang digunakan telah dilengkapi dengan Toilet dalam bus.

Sebagai informasi tambahan tarif bus EKA dari Surabaya ke Semarang per Oktober 2016 dan sebaliknya adalah 112 ribu rupiah dan itu sudah termasuk tiket makan di RM Duta 1 dan 2 Ngawi. Cukup bersaing dengan harga tiket kereta api ekonomi yakni di kisaran 90 dan 100 ribu rupiah dengan rute yang sama.

Berikut adalah jadwal bus EKA 2016 dari Surabaya ke Semarang  dan sebaliknya yang saya dapat sumbernya dari karcis bus itu sendiri:

Jadwal Bus Patas EKA Surabaya - Semarang

DARI SURABAYA KE SEMARANG
01.17    13.45
04.00    15.15
06.05    17.20
08.15    19.45
09.45    20.30
10.45    21.45
11.35    23.15

DARI SEMARANG KE SURABAYA
01.20    12.00
02.30    14.00
04.30    18.15
06.50    20.00
07.15    20.35
07.45    21.00
10.30    23.00


[UPDATED] Jadwal bus EKA Semarangan diatas mungkin tidak semuanya jalan, kadang ada satu atau dua jadwal yang sudah dihilangkan dan belum pasti jadwalnya. Sedangkan tujuan akhirnya juga beberapa kali berubah karena ditutupnya operasional terminal Terboyo Semarang.
Sempat beberapa saat bus ini mengalihkan tujuan akhirnya ke terminal Mangkang, namun berubah kembali ke Kaligawe atau sekitar Terboyo dikarenakan di terminal tsb sepi penumpang dan juga jarak tempuhnya lebih lama daripada di Terboyo.